kritik salafi, adi hidayat, firanda, abul jauzaa, rodja, takdir,manhaj, manhaj salaf, tahzir, Abdullah taslim, al-albani,
![]() |
| ust Adi Hidayat |
Silsilah Pembelaan Terhadap Ust Adi Hidayat: Bantahan Untuk Abul Jauzaa Atas Kritikannya Terhadap Ust Adi Hidayat Tentang Masalah Takdir (Bagian Ketiga)
Allah ta’ala berfirman: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuudh) sebelum Kami menciptakannya” [QS. Al-Hadiid : 22]. Rasulullah ﷺ bersabda: كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ “Allah telah menulis seluruh takdir makhluk-makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2653]. Bahagia dan celaka, neraka dan surga seseorang; maka semua itu telah ditetapkan oleh Allah ta'ala; sama seperti ajal dan rizki. Bukankah dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu secara marfuu’ dari Nabi ﷺ telah disebutkan: إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ، أَوْ سَعِيدٌ، فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا “Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari, kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula (40 hari). Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula (40 hari). Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan RIZKINYA, AJALNYA, AMALANYA, dan CELAKA atau BAHAGIANYA. Maka demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak diibadahi melainkan-Nya, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, tetapi CATATAN (TAKDIR) MENDAHULUINYA lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta, tetapi CATATAN (TAKDIR) MENDAHULUINYA lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3207 dan Muslim no. 2643]. Juga tentang kisah perdebatan antara Adam dan Muusaa ‘alaihimas-salaam: احْتَجَّ آدَمُ، وَمُوسَى، فَقَالَ لَهُ مُوسَى: يَا آدَمُ، أَنْتَ أَبُونَا خَيَّبْتَنَا وَأَخْرَجْتَنَا مِنَ الْجَنَّةِ، قَالَ لَهُ آدَمُ: يَا مُوسَى، اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلَامِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ، أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَة، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى ثَلَاثًا “Aadam dan Muusaa saling berhujjah (berdebat). Muusaa berkata kepadanya (Aadam) : “Wahai Aadam, engkau adalah ayah kami, engkau telah mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga”. Aadam berkata kepadanya : “Wahai Muusaa, Allah telah memilihmu dengan firman-Nya dan telah menuliskan (Taurat) dengan tangan-Nya untukmu. Apakah engkau mencelaku atas perkara yang Allah telah mentakdirkannya untukku 40 tahun sebelum Allah menciptakanku ?”. Maka Aadam mengalahkan Muusaa, Aadam mengalahkan Muusaa” – sebanyak tiga kali [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6614 dan Muslim no. 2652]. Yaitu, ketetapan Allah ta'ala telah mendahului perbuatan Adam yang menyebabkannya keluar dari surga.
Seakan-akan pada lafal ذُرِّيَّة Allah belum memutuskan bahwa semuanya masuk neraka atau surga, karena satu persatu mereka belum dikenali, benar bahwa mereka ; katakanlah kelompok A sudah dipersiapkan untuk masuk surga dan dan kelompok B sudah dipersiapkan untuk masuk ke dalam neraka, namun apakah semua yang masuk surga akan masuk surga dan yang semua yang masuk neraka akan masuk neraka?
Dalam uraian ini tidak dijelaskan apakah nantinya mereka semua kelompok A ketika mati akan benar-benar masuk surga atau tidak, sebab orang-orangnya masih belum dikenali (nakiroh), disebabkan lafal ذُرِّيَّة ini.
Dalam uraian ini tidak dijelaskan apakah nantinya mereka semua kelompok A ketika mati akan benar-benar masuk surga atau tidak, sebab orang-orangnya masih belum dikenali (nakiroh), disebabkan lafal ذُرِّيَّة ini.
Hadis ini seakan-seakan menetapkan sifat “jahil” bagi Allah, bahwa Allah tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Apakah semua keturunan yang Allah persiapkan masuk surga akan benar-benar masuk surga atau keturunan yang sudah Allah persiapkan masuk neraka akan benar-benar masuk neraka.
Allah tidak menjelaskannya.
Sayangnya sang sahabat tidak paham hal ini, dia pikir (sebagaimana si Abul Jauzaa ini berpikir) semua sudah sudah ditakdirkan masuk surga akan masuk surga dan semua yang ditakdirkan masuk neraka akan masuk neraka tanpa terkecuali, karena sulit menerima, lalu ia bertanya kepada nabi, apa gunanya beramal kalau begitu?
Allah tidak menjelaskannya.
Sayangnya sang sahabat tidak paham hal ini, dia pikir (sebagaimana si Abul Jauzaa ini berpikir) semua sudah sudah ditakdirkan masuk surga akan masuk surga dan semua yang ditakdirkan masuk neraka akan masuk neraka tanpa terkecuali, karena sulit menerima, lalu ia bertanya kepada nabi, apa gunanya beramal kalau begitu?
Di sinilah nabi menjelaskan dengan lebih rinci lagi one by one, bahwa dari turunan itu masing-masing hamba Allah (الْعَبْدَ) , bila ia konsisten dengan amalannya SAMPAI MATI maka ia sudah dipastikan masuk surga bila ia beramal dengan sebagian amalan ahli surga
(حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ الْجَنَّةِ. فَيُدْخِلُهُ بِهِ الْجَنَّةَ)
atau masuk neraka bila ia beramal dengan sebagian amalan ahli neraka
(حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ النَّارِ),
masuknya alif-lam pada kata abdun ini menunjukkan hal tersebut.
Inilah pointnya, dalam firman Allah sebelumnya, Allah tidak mengatakan bahwa Dia menjadikan turunan Adam yang sudah ia tentukan masuk surga akan masuk surga bila ia konsisten beramal sampai mati, dan begitupun turunan Adam yang sudah ia tentukan masuk neraka akan masuk neraka bila ia konsisten beramal dengan amalan ahli neraka sampai ia mati. Inilah yang ditambahkan oleh nabi, bahwa bila ia mati di atas amalan ahli surga maka ia masuk surga dan bila ia mati di atas amalan ahli neraka maka masuk neraka. Dengan begitu maka tidak sia-sialah amal tersebut!
أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنِ ابْنِ الْمُسَيِّبِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، قَالَ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ مَا نَعْمَلُ أَلِأَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ، أَمْ لِأَمْرٍ نَسْتَقْبِلُهُ استِقْبَالًا؟ قَالَ: «بَلْ لِأَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ» ، فَقَالَ عُمَرُ: فَفِيمَ الْعَمَلُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلٌّ لَا يُنَالُ إِلَّا بِالْعَمَلِ» ، فَقَالَ عُمَرُ: إِنَّا نَجْتَهِدُ
Mengabarkan kepada kami Abdurrazaq, dia berkata: mengabarkan kepada kami Ma’mar, dari Az Zuhri, dari Ibnul Musayyab, bahwa Umar bin Khathab berkata, wahai nabi Allah, apa engkau melihat apa yang kami amalkan, apakah karena ini perkara yang sudah selesai ditetapkan atau karena ini perkara yang bisa kami panen di hari kemudian (karena usaha kami-pent), lalu dijawab nabi, justru karena ini adalah perkara yang sudah selesai ditetapkan, maka Umar bertanya, lalu apa artinya beramal kalau begitu? Maka Rasulullah menjawab, setiap segala sesuatu tidak bisa diraih kecuali dengan amal, lalu Umar membalas, kalau begitu kami akan terus berusaha. Maka beramal lah agar bisa masuk surga. Bahkan lebih gila lagi, ia beramal dengan amalan ahli neraka, mati dalam keadaan beramal dengan amalan ahli neraka, tapi bisa masuk surga karena kegigihannya berhijrah, dalam riwayat bukhari muslim terdapat seorang laki-laki yang telah membunuh 100 orang,
عن أبي سعيدٍ الخدريِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: كَانَ فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ، فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لاَ، فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ اْلأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ، فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُوْلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ اِنْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُوْنَ اللهَ تَعَالَى فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ، وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سُوْءٍ. فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيْقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ، فَاخْتَصَمَتْ فِيْهِ مَلآئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلآئِكَةُ الْعَذَابِ. فَقَالَتْ مَلآئِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَقَالَتْ مَلآئِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُوْرَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوْهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ: قِيْسُوْا مَا بَيْنَ اْلأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ. فَقَاسُوْا فَوَجَدُوْهُ أَدْنَى إِلَى اْلأَرْضِ الَّتِى أَرَادَ، فَقَبَضَتْهُ مَلآئِكَةُ الرَّحْمَةِ. ﴿متفق عليه﴾
Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dulu sebelum kalian ada seorang laki-laki yang membunuh sembilan puluh sembilan orang, hingga ia bertanya tentang orang yang alim di kalangan penduduk bumi. Mereka menunjuk kepada seorang rahib (ahli ibadah), kemudian orang tersebut mendatanginya dan berkata bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Apakah masih ada kesempatan baginya untuk bertaubat? Rahib tadi berkata: “Tidak.” Orang itu malah membunuhnya, sehingga genap menjadi seratus orang. Kemudian ia bertanya tentang penduduk bumi yang paling alim. Maka ditunjukkan kepadanya seorang alim. Ia berkata kepadanya bahwa ia telah membunuh seratus orang. Apakah masih ada kesempatan baginya untuk bertaubat? Orang alim tersebut menjawab: “Ya! Dan siapa yang bisa menghalangi antaramu dengan taubat. Pergilah ke negeri ini dan itu, karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala. Beribadahlah bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang jelek.” Kemudian orang itu pergi tapi di tengah-tengah perjalanan ia meninggal. Sehingga malaikat rahmat dan malaikat adzab saling berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata: “Dia datang dalam keadaan bertaubat, menghadap Allah.” Malaikat adzab berkata: “Dia belum beramal shalih sama sekali.” Kemudian datanglah kepada kedua malaikat itu seorang malaikat dalam wujud manusia. Mereka (kedua malaikat itu) menjadikannya sebagai pemutus urusan mereka. Malaikat itu berkata: “Ukurlah antara dua negeri tersebut. Mana yang lebih dekat (jaraknya dengan kedua negeri itu) maka itulah lebih berhak.” Mereka kemudian mengukurnya. Ternyata mereka dapati bahwa ia (orang yang mati itu) lebih dekat ke negeri yang baik. Maka malaikat rahmat mengambilnya. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
Perhatikan, dia belum beramal shalih sedikitpun bersama orang-orang shalih tersebut, dan di tengah jalan ia mati dalam keadaan beramal dengan amalan ahli neraka, yaitu sehabis membunuh 100 nyawa tak bersalah, namun ujung-ujungnya malah masuk surga hanya karena ukuran jarak perjalanan yang hampir mendekati tempat hijrahnya. Apakah perkara ini sudah Allah tetapkan atau tidak? tentu saja tidak, bila kita berpatokan pada dalil yang penulis sebutkan di atas, sebab Allah tegaskan,
.ثُمَّ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ ذُرِّيَّةً. فَقَالَ: خَلَقْتُ هؤُلاَءِ لِلنَّارِ، وَبِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ يَعْمَلُونَ».
kemudian Allah mengusap punggunya maka keluarlah darinya keturunan, kemudian Allah berfirman lagi: Aku ciptakan mereka ini untuk masuk neraka, maka mereka akan mengamalkan amalan ahli neraka. Perhatikan, laki-laki pembunuh ini dikatakan oleh malaikat Azab: وَقَالَتْ مَلآئِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ Malaikat adzab berkata: “Dia belum beramal shalih sama sekali. (amalan ahli surga)”
Maka bagaimana dia bisa masuk surga sementara Allah berfiman: Aku ciptakan mereka ini untuk masuk neraka, maka mereka akan mengamalkan amalan ahli neraka. Inilah point dari lafal ذُرِّيَّةً (turunan Adam) yang berbentuk nakiroh (belum dikenal), karena memang Allah tidak tahu siapa saja yang nantinya akan masuk surga atau neraka? Apa kita katakan bahwa pemuda ini sudah bertaubat makanya dia dimaafkan dan masuk ke dalam surga, ini tentu naif sekali, Firaun pun sudah bertaubat tapi tetap masuk neraka, oleh karenanya harus dipahami dengan benar bahwa tidak bisa taubat tanpa amal saleh dan benarlah malaikat azab tadi, disinilah urgensi taubat diperintahkannya agar terus disegerakan karena kita tidak ada yang tahu kapan matinya, dengan disegerakan taubat maka kita punya waktu untuk beramal demi menyongsong surga yang dipenuhi bidadari-bidadari cantik dan jelita. Ehem, ehem…
Adapun hadis yang dijadikan pegangan si Abul Jauzaa ini, bahwa catatan takdir mendahului segalanya,
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ، أَوْ سَعِيدٌ، فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
“Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari, kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula (40 hari). Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula (40 hari). Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan RIZKINYA, AJALNYA, AMALANYA, dan CELAKA atau BAHAGIANYA. Maka demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak diibadahi melainkan-Nya, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, tetapi CATATAN (TAKDIR) MENDAHULUINYA lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal sehasta, tetapi CATATAN (TAKDIR) MENDAHULUINYA lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka dengan itu ia memasukinya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3207 dan Muslim no. 2643]. Maka penulis tidak dangkal memahaminya seperti yang dipahami abul jauzaa ini: bahwa kalian sudah ditakdirkan masuk neraka, tapi kalian diberi pilihan untuk kalian beramal dengan amalan penghuni surga, tapi toh takdir tak bisa dirubah; saat mati kalian akan beramal dengan amalan penghuni nereka juga dengan sebab takdir kalian tersebut!
Kalau lah Penulis memahaminya demikian, maka itu bisa bias, sebab akan kembali lagi berputar-putar ke kasus para sahabat tadi yang bertanya: lalu apa gunanya kami beramal, kalau sudah ditetapkan bahwa kami masuk surga atau masuk neraka? Toh tanpa amal kami tetap masuk surga atau neraka. Padahal nabi ngotot mengatakan harus beramal! Oleh karenanya hadis-hadis semacam ini harus dikompromikan bukan dibenturkan satu sama lain, atau hanya memilih salah satu dan membuang yang lain, dan si abul jauzaa ini hanya mau memilih hadis ini tapi tidak mau merujuk pada hadis-hadis yang berbeda sebagaimana yang kami kutip di atas.
Maka inilah yang menjadi persoalan para sahabat tadi, kalau emang begitu jadinya, katakanlah kami sudah ditakdirkan masuk neraka, lalu kami beramal dengan amalan penghuni surga, kemudian ketika mati kami beramal dengan amalan penghuni neraka, maka apa artinya kami beramal dengan amalan penghuni surga tersebut kalau kami sudah ditakdirkan pasti akan beramal dengan amalan ahli neraka? Ini kan artinya sama saja Allah memaksa kami untuk masuk neraka…
Maka dari itu pemahaman hadis bukhari muslim ini tidak seperti pemahaman si abul jauzaa ini, tapi merujuk kepada hadis yang sudah kami sebutkan tadi, bahwa seandainya kita ditakdirkan masuk neraka, itu bisa kita rubah dengan amal salih yang konsiten sampai kita mati sehingga kita bisa masuk surga, tapi bagaimana bila di tengah jalan kita malah melakukan amalan penghuni neraka dan mati, apakah itu takdir?

jangan pahami dengan pemahamanmu sendiri sehingga bantahanmu terlihat dangkal
ReplyDeleteBisakah orang yg sudah ditetapkan masuk neraka aiakhir hayatnya masuk surga?
ReplyDelete